Hasil diskusi tentang materi “Pewarisan Sitoplasmik”

Hasil diskusi mengenai materi “Pewarisan Sitoplasmik”

Anggota kelompok penyaji :
Priyambodo (B1J006062).
Atun Parhatun (B1J006064)
Fauzi Dwi Kurniawan (B1J006066)

Questions :
Inggit Dwi J. (B1J006072)
Apakah hasil dari keturunan jagung yang memiliki tetua mandul jantan dan tetua betina normal akan selamanya memiliki keturunan mandul jantan dan betina normal, walaupun disilangkan atau dikawinkan secara terus menerus?

Anggi. A [B1J006078]
Apakah yang dimaksud dengan Mutan Poki ?

Dian Farida (B1J006070)
Berdasarkan penjelasan kelompok penyaji, apakah yang dimaksud dengan Pewarisan Sitoplasmik
Mengapa hasil persilangan antara Clamydomonas yang mempunyai genotip (mt+str+) dengan (mt – str –) menghasilkan keturunan Clamydomonas yang semuanya tahan terhadap streptomisin, sementara persilangan antara (mt+ str –) dengan (mt – str +) menghasilkan keturunan Clamydomonas yang semuanya rentan terhadap streptomisin?

Waqi’atul (B1J006076)
Mengapa pada persilangan antara Paramecium aurelia akan menghasilkan kemungkinan 2 tipe anakan yang berbeda, yaitu pembunuh dan bukan pembunuh?

Answer :
Priyambodo (B1J006062)
Untuk jawaban saudara Inggit Dwi J. (B1J006072). Keturunan yang akan dihasilkan untuk persilangan antara tetua mandul jantan dan tetua betina normal akan selamanya memiliki keturunan mandul jantan, hal ini disebabkan apabila tanaman jagung yang dikatakan steril atau mandul jantan sitoplasmik tidak mampu menghasilkan polen yang aktif dalam jumlah normal sementara proses reproduksi dan fertilitas betinanya normal. Sterilitas jantan sitoplasmik tidak diatur oleh gen-gen kromosomal tetapi diwariskan melalui sitoplasma gamet betina dari generasi ke generasi. Jadi walaupun disilangkan balik dengan tetua betinanya akan tetap menghasilkan individu mandul jantan dan betina normal. Individu mandul jantan di sini bukan berararti tidak dapat menghasilkan polen, melainkan individu mandul jantan masih dapat menghasilkan polen akan tetapi tidak sebanyak polen yang dihasilkan oleh individu jantan normal. Jenis sterilitas ini telah banyak digunakan dalam produksi biji jagung hibrida.

Fauzi Dwi Kurniawan (B1J006066)
Untuk jawaban saudara Anggi. A (B1J006078). Kasus mutasi mitokondria dijumpai pada jamur Neurospora, yang pewarisannya berlangsung uniparental melalui tetua betina (pewarisan maternal) meskipun sebenarnya pada jamur ini belum ada perbedaan jenis kelamin yang nyata. Mutan mitokondria pada Neurospora yang diwariskan melalui tetua betina tersebut dinamakan mutan poki (poky mutant). Persilangan antara betina poki dan jantan tipe liar menghasilkan keturunan yang semuanya poki. Sebaliknya, persilangan antara betina tipe liar dan jantan poki menghasilkan keturunan yang semuanya normal. Jadi dapat disimpulkan mutan poki adalah pewarisan sifat yang berlangsung secara uniparental melalui tetua betina (pewarisan maternal). Walaupun pada kenyataannya individu tersebut belum dapat dibedakan jenis kelaminnya baik betina maupun jantan.

Priyambodo (B1J006062)
Untuk jawaban saudara Dian Farida (B1J006070). Pewarisan Sitoplasmik adalah Pewarisan sifat yang disebabkan oleh bagian eksternal dari nukleus, yaitu dengan adanya protein Histon yang dipilin oleh DNA di dalam kromosom yang berada di daerah sitoplasma. Pewarisan sitoplasmik dapat juga merupakan pewarisan sifat di mana sifat-sifat tersebut tidak diatur oleh materi genetik di dalam kromosom melainkan di dalam sitoplasma.

Atun Parhatun (B1J006064)
Untuk jawaban nomor 2 saudara Dian Farida (B1J006070). Jadi, pewarisan sifat ketahanan terhadap streptomisin berlangsung uniparental atau bergantung kepada genotipe salah satu tetuanya, dalam hal ini mt+. Dengan perkataan lain, pewarisan alel str mengikuti pola pewarisan uniparental. Meskipun demikian, alel yang menentukan tipe kawin itu sendiri (alel mt) tampak bersegregasi mengikuti pola Mendel, yakni menghasilkan keturunan dengan nisbah 1 : 1, yang menunjukkan bahwa alel tersebut terletak di dalam kromosom nukleus.

Priyambodo (B1J006062), Atun Parhatun (B1J006064), dan Fauzi Dwi Kurniawan (B1J006066).
Untuk jawaban saudara Waqi’atul (B1J006076). Paramecium aurelia akan menghasilkan kemungkinan 2 tipe anakan yang berbeda, yaitu pembunuh dan bukan pembunuh. Priyambodo (B1J006062) menjawab hal ini disebabkan pada strain tertentu Paramecium aurelia ditemukan dengan fenomena pembunuh (Killer) yang berkaitan dengan keberadaan sejumlah partikel yang disebut kappa di dalam sitoplasmanya. Keberadaan kappa bergantung gen kromosomal dominan K. Beberapa peneliti, seperti T.M. Sonneborn, mengamati bahawa sel Paramecium aurelia yang mengandung partikel-pertikel kappa akan menghasilkan senyawa beracun yang dapat mematikan strain protozoa lainnya yang ada di sekitarnya. Senyawa beracun ini selanjutnya disebut sebagai paramesin, sedangkan partikel-pertikel kappa ternyata merupakan bakteri simbion yang kemudian dikenal dengan nama Caedobacter taeniospiralis, yang artinya bakteri pembunuh berbentuk pita spiral.
Atun Parhatun (B1J006064) menambahkan apabila strain pembunuh melakukan konjugasi dengan strain bukan pembunuh (pada suatu kondisi yang memungkinkan strain bukan pembunuh untuk bertahan hidup), maka ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, kedua sel tidak bertukar materi sitoplasmik tetapi hanya bertukar mikronuklei sehingga diperoleh dua kelompok sel, yakni sel pembunuh dan sel bukan pembunuh yang kedua-duanya bergenotipe Kk. Jika masing-masing sel ini melakukan autogami, maka akan diperoleh sel pembunuh (KK) dan sel bukan pembunuh (kk) yang berasal dari sel pembunuh (Kk) serta sel bukan pembunuh (baik KK maupun kk) yang berasal dari sel bukan pembunuh (Kk). Jadi, genotipe KK dapat menghasilkan fenotipe bukan pembunuh jika di dalam sitoplasma tidak terdapat partikel kappa. Sebaliknya sel pembunuh (Kk) melalui autogami dapat menghasilkan sel bukan pembunuh (kk) karena partikel kappa tidak akan mampu bertahan di dalam sitoplasma tanpa adanya gen K. Dengan demikian, dari hasil tersebut tampak jelas bahwa sifat pembunuh atau bukan pembunuh ditentukan oleh ada tidaknya partikel kappa di dalam sitoplasma walaupun partikel itu sendiri keberadaannya bergantung kepada gen K di dalam nukleus.
Fauzi Dwi Kurniawan (B1J006066) juga menambahkan Kemungkinan ke dua terjadi pertukaran materi sitoplasmik di antara kedua sel (Gambar 8.5 b) sehingga hanya diperoleh satu kelompok sel, yakni sel pembunuh yang bergenotipe Kk. Jika sel-sel ini melakukan autogami, maka akan diperoleh sel pembunuh (KK) dan sel bukan pembunuh (kk) dengan nisbah 1 : 1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: